Tuesday, 18 September 2012

sejujurnya saya ingin menulis banyak hal.
tapi sepertinya perlu diurai satu per satu terlebih dahulu

ya.
satu
satu

Wednesday, 12 September 2012

jleb.

pagi ini, telat datang kuliah 8 menit, gara-gara sakit perut --a
dan tidak seperti biasanya dosen kali ini streak banget.

jadilah tidak diizinkan masuk kelas mata kuliah Radiologi CVS.
usai jam pelajaran, salah seorang teman nyelutuk...
"Eh Fildzah ga kuliah?"
"Telat 8 menit nih"
"Ckck.. Karakter mahasiswa"
-langsung nunduk, ga bisa berkata-kata-

Duh ya Allah, maluuu --a

Saat Berbicara


“Zah, belajarlah untuk menyampaikan sesuatu. Terbuka kalau ada pikiran ataupun masalah. Jangan pendam sendiri karena itu sifatnya kronis.”
Jadi ungkapkan apa yang kamu pikirkan, rasakan atau rencanakan. Agar orang lain paham, dan kamu tidak perlu memendamnya sendirian.


#belajar berbicara di saat yang tepat dan tak sekedar menjadi “pengamat”

Lelaki itu


Di kala kanak-kanak dulu, saat demam hingga malam hari biasanya aku merengek karena merasa tidak nyaman. Jika ibu akan bolak-balik menghampiri seraya mengganti kompres dengan wajah terlihat cemas. Maka, dengan suaranya yang berwibawa ayah akan bilang, “Anak ayah gapapa kok”. Lalu ia akan meletakkan punggung tangannya di keningku sambil berucap, “Sini, biar panasnya menular ke Ayah aja..”. Dan kata-kata ayah bikin aku yakin segera sembuh.

Ayah seorang didikan militer, dan itulah sebabnya beliau punya kepribadian amat tegas. Tak terkecuali pada anak-anaknya. Sejujurnya saat kecil aku merasa sangat takut pada ayah. Karena seringnya bertengkar sama adik, maka akulah yang kerap menjadi “sasaran” nasihat, bahwa seorang kakak harus mengalah dan jadi contoh.

Ia yang selalu mengungkapkan kebanggaannya dengan bilang, “Siapa dulu dong, anak ayah!”. Tapi oh tapi, kalau marah pun tak main-main (dan marahnya selalu dengan alasan dan tentunya sebagai tanda sayang)
Bahkan cara menjawab panggilan orang lain pun beliau ajarkan. Engkau cukup dipanggil satu kali, keduanya adalah teguran dan jangan sampai ke panggilan ketiga. Jawab minimal dua kata, “Ya, yah..” atau “Ya. Bu..” dan seterusnya.

Waktu ayah jadi imam shalat, maka bacaan favoritnya adalah ayat kursi. Makanya aku jadi familiar sama ayat ini.

Dan sejak terpisah jarak, maka setiap malamnya ayah akan menelefon ke rumah meski hanya bertanya kabar atau “Gimana sekolahnya, nak?”

Ya, tiap ayah punya cara mengungkapkan rasa cinta pada anaknya.

Dan seperti malam ini, “Gimana sayang, ada kabar?” katanya di ujung telefon.

Tuesday, 11 September 2012

blogwalking

saya suka menjelajah blog orang lain dan mengambil inspirasi dari sana.

:)

Monday, 10 September 2012

a step


Take the first step in faith. You don't have to see the whole staircase, just take the first step.
- Martin Luther King, Jr.
saya suka.
tapi kenapa sulit banget untuk mempertahankannya, menjadi sebuah kebiasaan, kebutuhan bahkan keinginan.
malas emang jadi musuh utama.

Membaca. Menulis. Melukis. Naik gunung, Travelling. Berenang. Bisnis.

ahaha. ayo zah!