Menengadah mencari garis batas yang tak kunjung
kutemukan.
Jauh.
Dan kata Maha hanya menyujud pada-Mu
satu.
Melangit lagi.
Mencari cinta tertinggi.
Tapi janji-Mu dekat,
melebihi urat nadi.
Wednesday, 23 May 2012
Tentang Nikmat
Seringkali saat suatu nikmat lepas, di saat itu baru kita menyadari keberadaannya. Contoh simpel dan memang saya alami, nikmatnya berkomunikasi dengan HP baru saya sadari waktu HP hilang tiba-tiba (yang alhamdulillah ditemukan orang dan dikembalikan) atau tentang nikmatnya menggunakan laptop terasa waktu LCD rusak dan untuk sementara waktu harus di service (padahal 2 hari berikutnya mau ujian blok)
Atau pernahkah kita sejenak merasakan. Bagaimana segelas air putih dingin terasa begitu menyegarkan dan subhanallah banget saat diminum sehabis jalan kaki 500 meter pulang kuliah jam 12 siang ga pake payung plus bawa tas yang berat banget... Wuih, segaaaar!
Mungkin begitu pula cara Allah menyadarkan kita akan begitu banyak limpahan karunia-Nya. Saat ditimpa masalah, bukan berarti Dia tidak sayang, hanya agar membuat kita meerasakan dengan lebih menyenangkan.
Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang adalah kunci kebahagiaan. Just simple.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar Rahman: 55)
Atau pernahkah kita sejenak merasakan. Bagaimana segelas air putih dingin terasa begitu menyegarkan dan subhanallah banget saat diminum sehabis jalan kaki 500 meter pulang kuliah jam 12 siang ga pake payung plus bawa tas yang berat banget... Wuih, segaaaar!
Mungkin begitu pula cara Allah menyadarkan kita akan begitu banyak limpahan karunia-Nya. Saat ditimpa masalah, bukan berarti Dia tidak sayang, hanya agar membuat kita meerasakan dengan lebih menyenangkan.
Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang adalah kunci kebahagiaan. Just simple.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar Rahman: 55)
Tuesday, 22 May 2012
Bu, sejenak aku ingin mendekapmu
Entahlah, dua bulan terakhir kali ini saya diiputi awan hitam. Resah, kata orang sekarang. Mengapa? Entahlah. Dan saya tidak menyukai situasi ini. For sure.
Jenuh. Mungkin ini jawabannya saat saya menghadapi kuliah, organisasi dan kegiatan lainnya.
Saat-saat seperti inilah, aku ingin sejenak pulang. Memeluk, mendekap aroma tubuh ibu. Menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala, menyerap energi dari suara nasehatnya. Memang ibu akan bertanya. Ia paling mengerti soal ini.
Lagi, ibu aku rindu..
Jenuh. Mungkin ini jawabannya saat saya menghadapi kuliah, organisasi dan kegiatan lainnya.
Saat-saat seperti inilah, aku ingin sejenak pulang. Memeluk, mendekap aroma tubuh ibu. Menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala, menyerap energi dari suara nasehatnya. Memang ibu akan bertanya. Ia paling mengerti soal ini.
Lagi, ibu aku rindu..
Saturday, 19 May 2012
Memang seperti itu :)
Kita hanya terpaut satu tahun, dari dulu dibesarkan bersama. Dan sejak lulus SMP
jadi setingkat di jenjang pendidikan. Sekarang di dunia perkuliahan, berjarak di ujung dua kota di Pulau Jawa, terpisah antara Bandung dan Malang raya (aseeek)...
Well, kami berdua adalah..
Yang sama-sama tak berkesudahan dalam pertengkaran masa kecil dan akhirnya nangis setelah dimarahi ayah. Yang jadi teman manjat pohon ceri dan bikin tenda di belakang rumah. Yang menjadi kompetitor oke untuk belajar dan lomba. Yang menjadi saudara di mana saja, tapi jadi saingan di tempat lomba. Yang selalu bareng waktu ngisi aplikasi-setiap seleksi chapter-sampe home interview-dan akhirnya kita benar-benar ke negara itu, meski dengan jalur dan waktu yang berbeda. Yang sama-sama menyukai bahasa Jepang dan menggambar. Yang tukaran buku paket pelajaran. Yang waktu jaman sekolah, setia nemenin di warnet kalau harus ngerjain tugas malam-malam. Yang meski protes, tapi selalu siap antar jemput sodara-sodara perempuannya. Yang kalau sama adik perempuannya, berulangkali bagaluik sampai nangih. Yang jadi tempat sharing mencocokkan jawaban UAN tiap hari sepulang ujian. Yang jadi rekan mecahin soal Matematika yang ga ngerti. Yang sering diam kalau dipaksa curhat. Yang sering disangka kakakku gara-gara tinggi banget (terang aja Paski Daerah). Yang ngingetin kalau aku harus bisa tugasnya para ibu. Yang jadi the only man di rumah kalau ayah lagi dinas di luar kota. Yang ngacak-ngacak rambuk adik sambil bilang, "Udah bisa apa ilda?". Yang dengan segala hal... memang seperti itulah ia.
Yang sama-sama tak berkesudahan dalam pertengkaran masa kecil dan akhirnya nangis setelah dimarahi ayah. Yang jadi teman manjat pohon ceri dan bikin tenda di belakang rumah. Yang menjadi kompetitor oke untuk belajar dan lomba. Yang menjadi saudara di mana saja, tapi jadi saingan di tempat lomba. Yang selalu bareng waktu ngisi aplikasi-setiap seleksi chapter-sampe home interview-dan akhirnya kita benar-benar ke negara itu, meski dengan jalur dan waktu yang berbeda. Yang sama-sama menyukai bahasa Jepang dan menggambar. Yang tukaran buku paket pelajaran. Yang waktu jaman sekolah, setia nemenin di warnet kalau harus ngerjain tugas malam-malam. Yang meski protes, tapi selalu siap antar jemput sodara-sodara perempuannya. Yang kalau sama adik perempuannya, berulangkali bagaluik sampai nangih. Yang jadi tempat sharing mencocokkan jawaban UAN tiap hari sepulang ujian. Yang jadi rekan mecahin soal Matematika yang ga ngerti. Yang sering diam kalau dipaksa curhat. Yang sering disangka kakakku gara-gara tinggi banget (terang aja Paski Daerah). Yang ngingetin kalau aku harus bisa tugasnya para ibu. Yang jadi the only man di rumah kalau ayah lagi dinas di luar kota. Yang ngacak-ngacak rambuk adik sambil bilang, "Udah bisa apa ilda?". Yang dengan segala hal... memang seperti itulah ia.
Ia memang jarang telfon, sms, atau bertanya kabar di dunia maya.
Sekalinya cuma bilang "hmm, ya, nggak". Bukan tak peduli, karena
ia akan jadi orang pertama yang bilang "Selamat Ulang Tahun
ayang", atau bertanya "Kapan pulang?"
NB: saudara laki-laki emang gengsian, tapi ia selalu perhatian :p
Tuesday, 8 May 2012
Masih
Mungkin salah.
Tapi setidaknya aku memastikan diri sedang belajar mencari arah, bukan diam di perhentian.
Semoga ia selalu mengacu pada gravitasi langit, satu hanya menuju-Mu.
Friday, 4 May 2012
Futur
(Episode sekarat)
Sudah bercumbu subuh lagi
Padahal belum ku tatap malam-Mu lekat
Terlalu sebentar.
Dalam kerinduan yang terjerembab di emperan
Sedang aku masih menghitung jumlah rakaat yang
tak lengkap.
Mengais gugu, mencari syukur.
---
Iman,
Yang tak kunjung sempurna.
Setia masa lalu yang berkarat
Harus aku sudahi dengan kemestian.
Sebab terlanjur lama ia dibiarkan
Berkelung kefakiran.
Malang –pada sebuah teras pagi, 5 Mei 2012
Tuesday, 24 April 2012
;')
Untuk saudaraku yang pantang berkalang tanah dan menjemput mentari adalah mimpi. Untuk yang menyemai semangat memperbaiki diri. Bahwa kalian telah menghimpun semangat membuncahku yang pernah pecah. Di rentang jarak kita menyimpul makna bahwa ukhuwah jangan berhenti di kata-kata.
Sungguh Allah tak pilih kasih. Ia Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dan aku... masih ingin membersamai-Nya bersamamu.
selalu, amalya.
Sungguh Allah tak pilih kasih. Ia Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dan aku... masih ingin membersamai-Nya bersamamu.
selalu, amalya.
Subscribe to:
Posts (Atom)